Dari awal abad 20, pemahaman ilmuwan
tentang struktur atom bertambah mendalam, dan hal ni mempercepat perkembangan
teori ikatan kimia. Kimiawan
Jerman Albrecht Kossel (1853-1927) menganggap kestabilan gas mulia disebabkan
konfigurasi elektronnya yang penuh (yakni, konfigurasi elektron di kulit
terluarnya, kulit valensi, terisi penuh). Atom selain gas mulia cenderung mendapatkan
muatan listrik (elektron) dari luar atau memberikan muatan listrik ke luar,
bergantung apakah jumlah elektron di kulit terluarnya lebih sedikit atau lebih banyak
dari atom gas mulia yang terdekat dengannya. Ia menyimpulkan bahwa gaya dorong
pembentukan ikatan kimia adalah gaya elektrostatik antara kation dan anion. Ikatan
kimia itu disebut dengan ikatan
ionik.
b. Ikatan kovalen
Sekitar
tahun 1916, dua kimiawan Amerika, Gilbert Newton Lewis (1875-1946) dan Irving
Langmuir (1881-1957), secara independen menjelaskan apa yang tidak terjelaskan
oleh teori teori Kossel dengan memperluasnya untuk molekul non polar. Penggunaan
bersama pasangan elektron oleh dua atom atau ikatan kovalen adalah konsep baru waktu itu. Teori
ini kemudian diperluas menjadi teori
oktet. Teori ini menjelaskan, untuk gas mulia
(selain He), delapan elektron dalam kulit valensinya disusun seolah mengisi
kedelapan pojok kubus sementara untuk atom lain, beberapa sudutnya tidak diisi
elektron.
Dengan cara ini dimungkinkan untuk memahami ikatan kimia yang
membentuk molekul hidrogen. Namun, pertanyaan paling fundamental, mengapa dua
atom hidrogen bergabung, masih belum terjelaskan. Sifat sebenarnya ikatan kimia
masih belum terjawab. Lewis mengembangkan simbol untuk ikatan
elektronik untuk membentuk molekul (struktur Lewis atau rumus Lewis) dengan
cara sebagai berikut.
Aturan penulisan rumus Lewis
1) Semua elektron valensi ditunjukkan
dengan titik di sekitar atomnya.
2) Satu ikatan (dalam hal ini, ikatan
tunggal) antara dua atom dibentuk dengan penggunaan bersama dua elektron (satu
elektron dari masing-masing atom)
3) Satu garis sebagai ganti pasangan
titik sering digunakan untuk menunjukkan pasangan elektron ikatan.
4) Elektron yang tidak digunakan untuk
ikatan tetap sebagai elektron bebas. Titik-titik tetap digunakan untuk
menyimbolkan pasangan elektron bebas.
5) Kecuali untuk atom hidrogen (yang
akan memiliki dua elektron bila berikatan), atom umumnya akan memiliki delapan
elektron untuk memenuhi aturan oktet. Berikut adalah contoh-contoh bagaimana
cara menuliskan struktur Lewis.
c. Ikatan koordinat
Bila
teori Kekulé dan Couper digunakan untuk mengintepretasikan struktur garam luteo,
senyawa yang mengandung kation logam dan aminua dengan rumus rasional Co(NH3)6Cl3, maka struktur
singular harus diberikan. Struktur
semacam ini tidak dapat diterima bagi kimiawan Swiss Alfred Werner (1866-1919).
Ia mengusulkan bahwa beberapa unsur termasuk kobal memiliki valensi tambahan, selain valensi yang didefinisikan oleh Kekulé dan
Couper, yang oleh Werner disebut dengan valensi utama. Dalam
senyawa-senyawa ini, atomnya (atau ionnya) yang memerankan peranan kobalt
disebut dengan atom
pusat, dan molekul yang memerankan seperti
amonia disebut dengan ligan.
Sifat
sebenarnya dari valensi tambahan ini diungkapkan oleh kimiawan Inggris Nevil
Vincent Sidgewick (1873-1952). Ia mengusulkan sejenis ikatan kovalen dengan
pasangan elektron yang hanya disediakan oleh salah satu atom, yakni ikatan
koordinat. Menurut Sidgewick, suatu ikatan koordiant dibentuk oleh atom
nitrogen dari amonia dan proton menghasilkan ion amonium NH4+, yang selanjutnya membentuk ikatan ion dengan ion
khlorida menghasilkan amonium khlorida. Amonia adalah donor elektron karena
mendonorkan pasangan elektron, sementara proton adalah akseptor elektron karena
menerima pasangan elejtron di dalam orbital kosongnya.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar